Padang dikenal sebagai tanah para pujangga besar yang telah memberikan warna bagi kesusastraan Indonesia. Semangat literasi yang kuat tersebut terus dipelihara dan dihidupkan kembali di kalangan remaja melalui acara tahunan yang prestisius di SMPN 1 Padang, yaitu Festival Sastra. Dalam festival ini, ribuan bait kata dirangkai menjadi pesan-pesan penuh makna yang dikemas dalam tema Puisi untuk Negeri. Acara ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan sebuah gerakan kultural untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan kepekaan sosial melalui media seni yang paling jujur, yaitu tulisan dan performa sastra.
Keberhasilan festival ini di SMPN 1 Padang bermula dari konsistensi sekolah dalam memberikan ruang bagi ekspresi diri para siswanya. Dalam festival ini, puisi tidak hanya ditulis di atas kertas, tetapi juga dipentaskan dengan penuh penghayatan dalam bentuk musikalisasi puisi maupun deklamasi yang dramatis. Para Siswa diajak untuk merenungkan makna mencintai tanah air di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Mereka menulis tentang keindahan alam Sumatera Barat, kerinduan akan perdamaian, hingga kritik sosial yang cerdas mengenai isu-isu lingkungan. Setiap bait yang tercipta adalah representasi dari pikiran kritis dan hati nurani para generasi muda yang jujur.
Fokus utama dari kegiatan yang Menggugah Jiwa ini adalah untuk memperhalus budi pekerti siswa. Sastra diyakini memiliki kekuatan untuk melatih empati; saat seseorang menulis atau membacakan puisi, ia harus menyelami perasaan orang lain atau mencoba memahami realitas dengan lebih dalam. Di tengah kurikulum yang sering kali didominasi oleh logika matematika dan sains, Festival Sastra hadir sebagai penyeimbang yang merawat sisi kemanusiaan siswa. Mereka diajarkan bahwa kekuatan kata-kata jauh lebih abadi dan berpengaruh daripada kekerasan fisik. Melalui puisi, mereka belajar cara menyampaikan pesan yang kuat namun tetap menjunjung tinggi estetika dan etika.
Pihak sekolah sangat menyadari bahwa banyak talenta terpendam di bidang kepenulisan yang sering kali tidak terfasilitasi. Oleh karena itu, sebelum festival dimulai, diadakan berbagai lokakarya kepenulisan yang menghadirkan sastrawan lokal sebagai mentor. Para siswa diajarkan teknik metafora, rima, hingga cara membangun diksi yang mampu menyentuh emosi pembacanya. Proses belajar ini sangat dinamis, di mana siswa saling bertukar kritik dan saran atas karya masing-masing. Atmosfer sekolah berubah menjadi sangat puitis, di mana setiap sudut kelas dipenuhi dengan semangat kreativitas yang meluap-luap.
