Inisiatif ini dikemas dalam bentuk lomba poster yang melibatkan seluruh perwakilan kelas. Setiap kelompok siswa diminta untuk merancang sebuah media visual yang berisi panduan teknis mengenai apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan sesudah terjadi gempa atau tsunami. Di SMPN 1 Padang, kegiatan ini bukan sekadar perlombaan estetika, melainkan proses pendalaman materi. Sebelum mulai menggambar, para siswa harus melakukan riset mengenai prosedur evakuasi yang benar agar informasi yang mereka sampaikan dalam poster bersifat akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara medis maupun teknis keselamatan.
Fokus utama dari pesan yang ingin disampaikan adalah semangat untuk tetap siaga bencana. Para siswa berkompetisi untuk menciptakan slogan-slogan yang mudah diingat (catchy) dan ilustrasi yang jelas. Penggunaan warna yang kontras dan tipografi yang terbaca dari jarak jauh menjadi kriteria penilaian utama. Poster-poster ini diharapkan dapat menjadi pengingat visual yang terus-menerus bagi siapapun yang membacanya. Melalui aktivitas kreatif ini, siswa SMPN 1 Padang belajar cara meringkas informasi yang kompleks menjadi poin-poin sederhana yang mudah dipahami oleh anak-anak hingga orang dewasa di lingkungan sekolah dan keluarga.
Pelaksanaan lomba ini dilakukan secara berkelompok antar kelas untuk memupuk semangat kolaborasi dan diskusi. Dalam satu tim, ada siswa yang bertugas mencari data, ada yang membuat sketsa, dan ada yang fokus pada pewarnaan. Sinergi ini mencerminkan bahwa penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan secara individual, melainkan memerlukan kerja sama tim yang solid. Atmosfer kompetisi yang sehat di SMPN 1 Padang memacu siswa untuk menghasilkan karya terbaik mereka. Karya-karya juara nantinya akan dicetak dalam ukuran besar dan dipasang di lorong-lorong sekolah sebagai bagian dari rambu-rambu keselamatan permanen.
Kegiatan di Padang ini juga mendapatkan apresiasi karena mampu mengubah kecemasan terhadap potensi gempa menjadi tindakan yang produktif. Siswa tidak lagi memandang bencana sebagai topik yang menakutkan untuk dibahas, melainkan sebagai tantangan yang harus disikapi dengan kesiapan mental dan pengetahuan yang matang. Pihak sekolah juga melibatkan guru seni dan guru IPA sebagai dewan juri, sehingga penilaian mencakup aspek artistik sekaligus kebenaran konten sains kebencanaan. Ini adalah contoh nyata dari integrasi kurikulum yang kreatif dan berdampak langsung pada penguatan karakter profil pelajar Pancasila.
